Move the the On

Gue suka nulis, dan banyak banget inspirasi yang datang dari teman sekitar gue. Dan salah satunya adalah cerita ini, cerita ini juga gue masukan kedalam bab buku gue yang berjudul ‘Cerita Absurd Ababil’ Semua nama yang ada di dalam cerita ini disamarkan, semoga suka ya!^^
Penyesalan selalu dateng telat. Bedanya, dia nggak pernah di hukum sama guru. Yang dateng di awal itu pendaftaran, tapi terkadang gue mau hidup ini ada istilah ‘Daftar Ulang’ seandainya hidup semudah itu… 
Gue adalah tipikal anak manusia yang mudah mencintai tapi sulit untuk melupakan. Aih Sedaaaaap. Sebagai ‘abege’ era kini, gue merasa bangga karena memiliki berbagai pengalaman tentang cinta. Ah cinta, bau sob. Walaupun hampir semua pengalaman gue itu nggak jauh dari di PHP-in, iya gitu. Gue itu orangnya serba salah, nggak punya pacar ngeluh pengen punya pacar, pas punya pacar ngeluh bosen. Ya namanya juga manusia, nggak pernah puas sama apa yang di miliki. Hal terindah menurut gue adalah ketika kita dicintai oleh seseorang yang kita cintai juga, tapi hal itu nggak pernah gue dapatkan… karena apa? Karena nasib gue cuma mentok di Php-in. Tapi walaupun gue lebih banyak di Php-in daripada pacaran beneran, tapi gue mengerti sama orang-orang yang berada disekeliling gue yang sedang fase mencintai seseorang walau tak berbalas…
Ada temen gue sebut aja, Adin. Dia dulu sempet pacaran sama temen sekelasnya waktu kelas satu sebut aja Aji, tapi selama pacaran tuh mereka lebih keliatan kayak temenan bukan pacaran. Hingga akhirnya ketika mereka putus mereka malah kebalikannya, mereka keliatan seperti pacaran. Aneh, itulah cinta.
Adin merupakan tipikal yang ceria dan gampang move on, berbeda dengan mantan pacarnya itu yang masih memperlihatkan bahwa ia masih menyimpan perasaan yang amat mendalam. Adin selalu menghiraukan perasaan mantannya itu, selama kelas satu mantannya mungkin memiliki prinsip ‘Terus menunggu, entah sampai kapan’ hingga pada sewaktu ketika, temen gue si Adin itu dikabarkan jadian sama satu cowok angkatannya. Aji juga kenal dengan pacar barunya Adin, dan tanpa ekspresi benci ataupun dendam, dia bilang “Pajak jadian dong” ke Adin.
Saat itu gue melihat dan mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Aji ke temen gue itu, gue hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati “Seandainya gue bisa ngerasain perasaan yang setulus itu ya” Setiap gue dan teman gue yang lain nanya tentang kabar hati dia ke Adin dia selalu mencoba menyembunyikannya, tapi yang perlu diingat adalah Mata nggak pernah bisa bohong. 
Setiap kali gue nanya tentang perasaannya ke Adin itu kayak gimana, matanya secara nggak langsung bilang ke gue “Gue tuh masih sayang banget sama temen lo, dan seandainya temen lo itu tau perasaan gue ini” tapi yang keluar dari mulutnya selalu, “Enggak kali udah biasa aja, sok tau lu” Namun, setelah gue berpikir ulang, apa yang dilakukan Aji, juga gue lakukan. Gue mengalami masalah cinta yang sama kayak dia. Apa yang dilakukan Aji, juga dilakukan olehmereka yang belum bisa move on sepenuhnya.
Orang yang belum bisa move on itu akan selalu mengingat segala sesuatunya yang dulu pernah terjadi. Agar membuatnya ‘Terlihat bahagia’ adalah ketika mengingat kembali kenangan indah dulu, dan ketika ingatan itu berakhir, harus menerima kenyataan bahwa kenangan itu hanya bisa dikenang, tidak untuk kembali.
Gue mengingat semua apa yang ada pada cowok yang membuat gue belum bisa move on hingga sekarang ini, gue tahu nama lengkap dia hingga nama panggilannya. Gue selalu ingat setiap kata yang ia ucapakan, semua perlakukannya ke gue, semua itu akan selalu tersimpan di dalam memori otak ini. Barang-barang yang sering ia gunakan seperti tas, sepatu, hingga jaket gue selalu mengingatnya, setiap eskpresinya, dan cara dia menyampaikannya ke gue. Bukan maksud gue untuk membuat diri sendiri merasa tersiksa, gue hanya ingin membuat jiwa gue mengingat hal yang setidaknya dulu pernah membuat bibir ini tersenyum.
Aji tau semua tentang hidup Adin, semuanya. Begitu juga gue, nggak ada satu pun informasi yang gue lewatkan tentang dia. Tentang siapa dia, seperti apa hidupnya di dulu kala, seperti apa keluarganya, seperti apa sifatnya dan kapan dia ulang tahun, ya walaupun dia nggak pernah tau seperti apa gue.
Aji di sekolah selalu mencoba untuk menghiraukan perasaanya ke Adin, sebisa mungkin ia mencobanya walaupun matanya nggak pernah bisa bohong. Gue juga mencoba menjadi seperti apa yang Aji lakukan, mungkin nggak bisa sepenuhnya tapi dalam fase proses ‘Menerima kenyataan’. Hingga beberapa waktu kemudian, akhirnya perasaan begitu dalam yang dimiliki oleh Aji kepada Adin, sedikit demi sedikit memudar karena ia mencoba untuk menyibukan dirinya sendiri dengan berbagai tugas dan eskul dan meluangkan waktu bareng temen-temennya.
Semua perasaan mendalam yang dimiliki oleh Aji kini berbalik ke Adin, saat di mana Aji udah bener-bener menghiraukan perasaanya itu, perasaan menyesal pun datang ke dalam diri Adin. Dia selalu merasa cemburu jika Aji deket-deket sama cewek, bukan marah sama Ajinya melainkan sama cewek yang udah deket-deket sama Aji.
Semenjak perasaan Aji memudar, tiba-tiba Adin menunjukan perasaan menyesalnya dengan cara mulai segala sesuatunya duluan…. Seperti sms duluan. Adin cerita ke gue, kalau dia ngerasa seneng bisa smsan dan gokil-gokilan lagi sama mantannya itu. Hingga sekarang gue nggak pernah ngerti sama jiwa Aji yang begitu baik telah membukan pintu maaf  untuk orang yang jelas-jelas udah membuatnya remuk bertubi-tubi.
Setiap cerita yang keluar dari mulut Adin tentang seperti apa percakapannya dengan Aji, mata Adin selalu berbinar-binar menandakan bahwa “Gue nyesel, gue pengen ngulang dan pengen memperbaiki yang dulu udah gue hancurin”tapi seperti yang gue bilang bahwa ‘Penyesalan itu selalu dateng telat, tapi bedanya ia tidak pernah dihukum oleh guru’.
Ketika nasi sudah menjadi bubur. Kalau bubur itu masih bisa dimakan, kenapa enggak?
Ketika gue merasa bosan, gue nelfon Adin dan bercerita tentang perasaan gue yang masih belum bisa move on ini. “Kenapa ya gue nggak bisa move on? Padahal di sini kan gue menjadi korban” Adin bukannya merespon pertanyaan gue dia malah ikutan nanya, “Kenapa ya gue juga nggak bisa move on dari dia? Padahal dia kayaknya udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama gue” Di percakapan telfon malam itu adalah berisi tentang dua orang anak manusia yang nggak pernah mengerti sama perasaanya sendiri, tidak tahu apa yang diinginkan oleh hatinya sendiri, dua orang anak manusia itu hanya ingin merasakan keindahan dulu yang sekarang hanya menjadi sebuah kenangan.
Entah, apa kisah ini bisa menjadi sebuah cerita yang dapat dikenang ataudilupakan

Cinta itu adalah kebahagian, dan ada yang bilang bahwa cinta tak harus memiliki. Yang bilang kayak gitu munafik! Gimana enggak, yang namanya kebahagian itu harus dimiliki sob bukan hanya untuk di-idamkan..
tumblr_m5wx71N3OO1ryl2lvo1_500

You Might Also Like

0 komentar