Tentang Cita-Cita

Waktu gue kecil, banyak banget yang nanya gue mau jadi apa. Dulu gue itu masih polos polos bego, jadi gue mendefiniskan ‘Cita-cita’ itu sebagai suatu pekerjaan di masa depan kalau gue udah gede nanti. Setiap ada orang yang nanya gue mau jadi apa, selalu gue jawab mau jadi dokter, yang membuat gue bercita-cita menjadi seorang dokter adalah karena gue beranggapan pekerjaan paling keren sedunia tuh jadi dokter.
Pokoknya waktu kecil gue menganggap bahwa dokter tuh cool abis, dia tau penyakit orang dan bisa nentuin kapan seseorang mati hanya dengan menggunakan steskop. Padahal kan dokter itu cuma manusia biasa, tapi kenapa dia bisa nentuin kapan matinya seseorang, Tuhan aja kalah kayaknya sama dokter. Hihihi. Setiap gue bilang gue mau jadi dokter, pembantu gue selalu jawab ‘Dokter? Di dodok gemeter?’ Entah maksudnya apa, tapi kata-katanya selalu bikin gue nyengir mulu. Dan gue juga gak tau kenapa kata-kata pembantu gue itu gue tulis disini (,---)
Seiring waktu berjalan dan gue tumbuh besar, gue lebih paham maksud cita-cita yang sering orang tanyakan ke gue semasa kecil dulu. Pas gue kelas 4 SD, saat gue fikir udah ngerti banget sama arti cita-cita, gue ganti cita-cita dengan bercita-cita menjadi wartawan. Cool abis, ketemu orang-orang penting, ngejar-ngejar artis, ngeliputin artis yang pamer kalo setiap sedekah, terus bisa kepo-in kehidupannya dia. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, gue nggak mau jadi wartawan. Karena males aja gue harus ngurusin hidup orang, hidup gue sendiri aja masih berantakan kayak kapal pecah yang diacurin sama cewek yang lagi pms. Mengerikan.
Sejak saat itu, gue mengganti cita-cita gue dari wartawan jadi bussinesgirl. Smart. Bisa punya satu pekerjaan yang menjanjikan, dapet penghasilan yang besar, punya banyak anak buah yang bisa disuruh-suruh, ada acara meeting di mana-mana, di mintain tanda tangan mulu sama sekretarist, udah gitu bisa duduk dibangku gede sambil kaki keatas meja mantengin laptop. Widih, keren abis. Tapi apa gue bisa jadi seorang bussinesgirl? Gue aja nggak tau apa bakat gue selain nulis dan nulis…
Cita-cita terakhir gue yaitu ketika gue duduk dibangku kelas 6 SD adalah menjadi seorang Penulis. Stylist, muda, dewasa, romantic, dan karya di baca oleh banyak orang dan bisa menjadi panutan bagi banyak orang. Gue pengen jadi penulis!
Intinya sih, setiap orang pasti punya tujuan dan cita-cita dalam hidupnya. Pasti. Kalo nggak punya cita-cita ya nggak usah hidup aja. Setiap orang harus punya cita-cita agar semasa hidupnya ia memiliki sesuatu yang dikerjakan dengan kerja keras, dan ketika tua nanti bisa merasakan pekerjaan yang selama ini di perjuangkan, mati pun akan merasa sempat berguna bagi banyak orang. Kalo nggak punya cita-cita mungkin udah banyak orang yang gantung diri, minum obat cacing agar over dosis, dan masih banyak ide konyol lainnya.
Setiap cita-cita butuh usaha dan perjuangan, perjuangan bukan hanya soal hasil akhir tapi prosesnya. Jangan cuma cinta doang yang diperjuangin, perjuangin masa depan yang lebih baik dari sekarang. Ibaratnya itu, ketika ada ikan terjerat di dalam jaring, ia akan berusaha untuk membebaskan dirinya dan masih banyak kisah lainnya yang bisa dijadikan pelajaran untuk mengejar mimpi dan cita-cita. Semua itu dilakukan hanya untuk satu tujuan, cita-cita. Bukan hanya harta yang bisa berharga, cita-cita pun begitu.
Gue juga sampe sekarang masih punya bejibun cita-cita yang harus gue gapai. Salah satunya adalah punya rumah kayak yang ada di film ‘Richie Rich’ yang di dalam rumahnya itu ada Mcd, ada Disneyland, ada bioskop, ada wateboom, dan lapangan olahraga yang super lengkap. Bayangin suatu saat nanti di mana gue bisa menganggap bahwa duit bisa dijadikan kertas warna yang bisa di gunting dan di jadiin burung, perahu, topi,dll. Hidup begitu indah seandainya bisa seperti itu.
Cita-cita gue yang kedua adalah berguna bukan hanya untuk diri sendiri, tapi bagi banyak orang. Setiap gue menerima kata ‘Terima kasih’ dari orang itu rasanya seneng banget, walaupun hanya berasal dari hal-hal kecil kayak minjemin pulpen, tapi gue ngerasa gue jadi berguna aja buat orang disekitar. Di setiap hidup gue, gue mau selalu jadi orang yang bermanfaat, orang yang dibutuhkan banyak orang, orang yang bisa diandalkan. Ada perasaan puas tersendiri aja gitu buat gue.
Cita-cita gue yang terakhir adalah menjadi seorang penulis seperti Raditya Dika, dan semua cerita yang gue tulis ini bisa berubah wujud menjadi sebuah buku yang beredar di toko buku dan dibaca oleh banyak orang. Gue nggak tau, gue bisa bikin cerita ini menjadi buku apa enggak, tapi harapan gue saat ini adalah agar orang bisa menikmati karya yang gue tulis lebih dari setahun ini. Gue sering ngirimin karya tulis gue kayak cerpen ke berbagai majalah, dan ikut lomba-lomba tapi tidak pernah ada tanggapan. Tapi itu nggak membuat semangat gue tumbang, kan harus bersusah-susah dulu baru bisa ngerasain seneng. Untuk mendapatkan sesuatu butuh perjuangan dan harus mau bersusah-susah dulu, guru gue juga pernah bilang ‘Kalo mau bisa, ya harus mau repot’ karena itulah hukum alam yang ada. Hal yang mudah didapatkan, akan mudah juga untuk pergi, tapi hal yang sulit didapatkan akan sulit juga untuk pergi. That’s what I feel it now.
Berkaryalah, jangan biarkan seorang pun menghalangi semua cita-citamu. Yakin, dan Percayalah kalau semua udah ada jalannya masing-masing!

You Might Also Like

1 komentar

  1. Cita-Cita kita itu sama tau gak... Apakah kita Jodoh?? aihhh...

    ReplyDelete