Mungkin ini maksudnya...


Keraguaan gue untuk nggak maju pun sekarang semakin menebal, mungkin gue hanya akan berdiri di zona nyaman ini sampai entah kapan... Gue nggak tahu ada apa dengan diri gue, apa yang sebenernya hati gue mau, ketakutan dan keraguaan gue selama ini udah membuat gue menyerah sampai disini, di zona gue merasa nyaman tapi miris. Bahagia tanpa berharap lebih itu mustahil, jendral. Sama halnya, mencintai tanpa memiliki itu sama mustahilnya. Baru kali ini gue ngerasain menjadi "Secret Admirer" menjadi seseorang yang kerjaannya adalah menjadi stalker handal. Mengecek segala sesuatu yang dilakukan oleh dia, lewat sosial media.

Gue selalu bertanya-tanya, "Kapan peka?" tapi pada kenyataanya sekarang itu semua berbalik dengan timbul pertanyaan dalam otak gue, "Kapan berhenti berharap?" dan hati gue cuma bisa jawab, "Sampai harapan ini mati"

Gue tau, gue salah untuk begitu berharap sama dia.. Tapi itu semua bukan mau gue, takdir yang udah bikin gue kayak gini. Dia pernah bilang kalau  

Benda berharga bukan cuma benda yang punya nilai sejarah. Benda berharga adalah hal yang diperjuangkan sejak dahulu

Gue bisa menjawab argument dia, Benda yang diperjuangkan sejak dahulu? Kamu. Gue tau dia bukan benda, tapi benda itu kadang didefinisikan sebagai hal yang berharga, dan hal yang berharga itu adalah kamu. Hal yang diperjuangkan sejak dulu? Ya kamu.

Benda berharga bukan benda yang harganya selangit. Benda berharga adalah benda yang tak tergantikan

Benda yang tak tergantikan, itu kamu. Walaupun gue tau kalau dia bukan benda, tapi dia adalah hal yang tak tergantikan.

Waktu itu dia pernah nanya sama gue kenapa ngefavorite in tweet dia? Ya karena semua tulisan ini. Dia juga pernah nanya "Eh berarti tadi lu nge-stalk dong ya?" gue jawabnya sih enggak, padahal kan emang iya. Seandainya dia tau kalau apa yang dia tanyakan itu memang benar. Sepertinya bukan seandainya dia tau, tapi harusnya dia tau. Iya.

Dia juga pernah bilang
Orang yang menyia-nyiakan perasaan orang lain akan lebih buruk dari sampah 

Semoga kamu bukan termasuk orang yang lebih buruk dari sampah ya...



Gue baru tau sekarang, kalau tulisan seseorang itu kadang bisa menjadi salah satu faktor kurang tidur (insomnia)...

Dan tadi pagi pas gue stalking timelinenya, dia bilang kalau sekarang lagi deket sama cewek. Saat itu gue langsung nanya sama diri gue "Nggak berdarah, tapi kok sakit ya?" dan saat itu jugalah gue langsung megang dada (nunjuk hati). Perasaan gue ini nggak pernah salah, mungkin hanya di waktu yang salah aja. Gue capek berharap, mungkin sekarang gue hanya bisa mendoakan, Awalnya perasaan ini muncul dari kecil hingga membesar seperti sekarang, semakin lama akhirnya malah semakin jauh. Sekarang saatnya menerima, gue paham sekarang bahwa kenyataan kadang berbeda dengan apa yang diinginkan. Mungkin gue hanya akan bisa seperti ini, hanya bisa merasakan perasaan ini sendiri, sendirian. Memang terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak sesungguhnya dibutuhkan. Dan sebenarnya yang gue butuh sekarang hanyalah satu, merelakan.

Yang namanya gelap itu nggak ada, yang ada itu hanya kekurangan cahaya. Padahalkan kalo lampu diluar dinyalain atau bulan dan bintang lebih diterangin, "Kita" bisa melihat pemandangan yang mungkin lebih indah. Mungkin masalahnya ada pada perasaan yang tak berbalas, perasaan yang begitu dalam....perasan yang begitu dalam...perasaan yang begitu dalam... Gue ulangin kata-kata itu sampai nggak ada artinya lagi atau bahkan hingga perasaan ini hilang dengan sendirinya... Mungkin perasaan yang begitu dalam ini yang membuat semuanya terasa gelap. Atau kita nggak akan pernah bisa jadi "kita" sekarang dunia akan terus berputar dan aku akan terus berdiri. Semoga dengan berakhirnya harapan ini, aku udah bisa lupain kamu ya.  
SELAMAT TINGGAL.






You Might Also Like

0 komentar