Cerpen: “Ya” (Semacam cinta)




Minimal aku akan menyapamu tiga kali sehari secara rutin, macam jadwal makan sehat saja.

Pagi saat kau baru membuka gembok pagar rumahmu. Dengan stelan pakaian yang rapih dan sebuah tas punggung yang itu-itusaja. Biasanya sekitar pukul enam, aku sudah di depan pintu rumahku. Rumah kita bersebrangan. Entah aku pura-pura menyapu halaman, atau menyiram tanaman di pot-pot kecil, kadang pura-pura sarapan nasi uduk atau bubur ayam yang kubeli di pedagang keliling.

Lalu aku akan bertanya retoris, “Berangkat sekolah?” 
Kau akan selalu dan hanya selalu menjawab dengan, “Ya.”

Lalu sore sekitar pukul enambelas kau dengan wajah berantakan, berjalan lelah dan bersiap membuka pagar.  Aku sudah bersiap tentu saja sebelum jam enambelas di depan rumah. Pura-pura menikmati secangkir teh melati, atau membaca sebuah majalah. Lalu menyapamu lagi dengan yang lebih retoris, “Baru pulang sekolah?”

Dan jawabanmu selalu dan hanya selalu, “Ya.”

Kau pun berlalu menutup gerbang tanpa menggemboknya. Malam setiap pukul duapuluh dua, tiap kau bersiap menggembok pagar rumah. Tentu saja aku sudah di depan rumah pura-pura tertarik mengamati langit atau apa pun.

Lalu bertanya yang tentu saja masih retoris, “Sudah mau tidur?”
Lagi-lagi kau hanya menjawab, “Ya.”

Lalu malam ini kuputuskan untuk tidak menungguimu dan menyapamu di depan rumah. 

Pasti kau bosan dengar suaraku, pertanyaanku yang itu-itusaja.
Jika aku jadi kau aku pun pasti berpikir ini terlalu membikin bosan.
Ah… pasti kau sudah bosan sejak lama
Tiba-tiba saja aku cemas. Aku harus mengurangi frekuensi menyapamu yang retoris. Supaya kau tak bosan.

Mungkin sekitar seminggu sekali saja. Atau kutanyakan saja malam ini, “Apa kau bosan dengan pertanyaanku?”
Ah, tidak, tidak, aku bisa mati berdiri, jika jawabanmu adalah, “Ya.”
Baiklah, kupikirkan pertanyaan lain yang kira-kirabisa membuatmu menjawab lebih dari, ya.

Dan mungkin aku butuh beberapa potong stok pertanyaan berbeda tiap minggunya.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Lucu ih kayaknya kisah nyata nih hehe, ditunggu cerita lanjutanya ya siapa tau kalian haha
    Salam kenal ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan kisah nyata kok, hanya cerita khayalan sebatas cerpen hehe. Ok, salam kenal juga kak :)

      Delete
  2. ihhh cerpen nya sangat menarik ya hehehhehe...

    ReplyDelete