Cerpen: Kertas Kosong

           Sore itu ada seorang gadis yang sedang duduk di atas loteng rumahnya, menanti senja sambil menikmati tarian burung-burung dilangit, saat itu ia melihat sekitarnya, dan yang ia lihat hanyalah genting-genting yang disinggahi banyak keluarga bahagia di dalamnya.  Gadis itu pun singgah di salah satu genting-genting tersebut, ia dikenal oleh orang sekitar tinggal dirumah itu, rumah paman dan bibinya.

Gadis itu terlahir dan di besarkan sebagai kertas kosong yang sejak lama tidak pernah menemukan pensil dan penghapus yang cocok untuk mengisinya. Padahal, ia sudah sering berkeliling kota, terutama ke toko buku, hanya berharap bisa menemukan pensil dan penghapus yang selama ini dicarinya.

Gadis itu selalu menantikan liburan panjang, bulan puasa yang selalu penuh nikmat, lebaran yang penuh maaf, dan tahun baru yang penuh dengan kemerihaan, hal itu karena ia selalu merasa kesepian. Gadis itu memang terlahir menjadi kertas kosong, tetapi ia selalu berharap bisa menemukan sesuatu yang membuatnya tidak lagi menjadi sebuah kertas kosong. Tetapi seseorang yang hidup tanpa keluarga, mungkin sangatlah sulit untuk mendapatkannya. Sungguh menyedihkan untuk hidup yang hanya selalu menyusahkan orang lain.

Tetapi ia selalu berpikir ada keluarga untuknya di suatu tempat, keluarga yang tak pernah terlihat, selalu memikirkan mereka, sebagai ayah dan ibu, berpura-pura sebagai dirinya sendiri.

Di loteng hembusan anginnya begitu terasa sehingga membuat sang gadis itu memejamkan matanya sejenak, dalam pejaman matanya ia berdialog dengan seseorang yang tidak ia kenal..

Seseorang itu pun bertanya kepadanya, “Apa impian terbesarmu?” ia pun menjawab,

“Impian terbesar apa maksudmu?”

“Ya, kamu mau menjadi apa di dunia ini?”

Gadis itu pun menjawab penuh rasa percaya…

“Di temukan”.

Seketika seseorang itu pun tersenyum dalam penjaman mata sang gadis, dan terus bertanya..

“Apakah ketika kamu ditemukan, mereka masih mengenalimu?”

Ia pun menjawab dengan ragu, “Tidak”

“Lalu?”

“Saya sudah terlahir sebagai kertas kosong, tetapi saya tidak mau selamanya hanya menjadi kertas yang kosong, suatu saat nanti kertas kosong ini akan menjadi sebuah buku tebal yang berisi banyak cerita, yang kelak akan berada di toko buku”

“Menjadi seorang penulis maksudmu?”

“Tidak juga, saya hanya ingin menceritakan pada kertas kosong yang saya punya, agar menjadi sesuatu yang tidak kosong lagi, hingga suatu saat nanti ada nama saya di cover depan buku tersebut. Mungkin dengan begitu, bukan hanya ditemukan, tapi diakui…”

“Terkadang, kita tidak perlu menjadi orang lain agar diakui, cukup menjadi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup”

“Terkadang banyak orang-orang hanya bertanya mengapa saya peduli sekali dengan pengakuan, alasan sebenarnya adalah bukan hanya diakui agar dianggap, tetapi untuk memberikan saya kesempatan sebentar untuk merasakan sebuah kasih sayang dari mereka, ayah dan ibu…”

Orang tersebut langsung terdiam dan memegang punggung gadis tersebut sambil berkata,

        “Suatu saat nanti, saya yakin kamu tidak akan pernah menjadi kertas kosong lagi..."

        “Saya harap pun begitu”  

Jawab gadis tersebut sambil memberikan senyuman yang selalu bisa menutupi rasa kekosongannya.


You Might Also Like

5 komentar

  1. Mantap! :))

    Terlepas dari EYD, tulisannya asyik dan keren. :D

    Ciyee template baru. :))

    ReplyDelete
  2. Terlepas dari eyd? Maksudnya gimana, Yog? Template gratisan, Yog. Kerenan template lo ih susah bikinnya juga

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Artikel yang sangat menarik :D
    http://clayton88.blogspot.com | http://bit.ly/1sUU8dl | http://goo.gl/lNMX3D | http://goo.gl/cAQcMp | http://goo.gl/97Yn1s | http://goo.gl/tw2ZtP | http://goo.gl/RkuB4G | http://bit.ly/1Mwgw3U | http://bit.ly/23ABPpR |

    ReplyDelete