Saturday, April 22, 2017

English For Journalism, is the best experince that i ever had

0

Berawal dari chat whatsapp dari tante gue. Sore itu tante gue yang jarang banget ngechat tiba-tiba ngewasap gue ngirimin caption sebuah acara hingga cara registrationnya. Acara itu adalah English For Journalism by University of Pennsylvania and Coursera di @America Pasific Place Lt.3 - Jakarta Pusat yang diselenggarakan pada tanggal 14 Januari 2017. Acara ini literally free course gitu selama satu bulan setiap hari Sabtu hingga 11 Februari 2017.

Gue emang orang yang sangat exicted dengan hal-hal berbau ke-jurnalistikan gitu, apalagi cita-cita gue kan jadi Jurnalis VoA, jadi acara ini tuh kayak nganterin gue selangkah lebih dekat kepada cita-cita gue. Hari pertama gue hampir aja telat, karena sebelumnya gue emang nggak pernah tahu di mana letak persis @america di Pasific Place Mall itu. Berbekal semangat sama niat, gue pun sampai sana dan ngantri banget pas di absensinya.



Pertemuan minggu pertama, acaranya di mulai pada jam 11.00 siang dan disambut oleh crew dari @america. Kelas di minggu pertama pun di mulai dan pengisi materinya adalah Mr. Bruno. Beliau bekerja di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Jago banget bahasa inggrisnya parah. Enaknya, caranya ngomong tuh mudah dimengerti, ya mungkin karena beliau english USA kali ya bukan english UK. 

Setiap kalimat yang keluar dari mulut beliau selalu gue perhatikan dan gue cerna bener-bener dan reflex satu ruangan pas sesi diskusi dan tanya jawab tuh ngomongnya pakai bahasa inggris. Berasa paling jago ngalahin guru EF deh gue. Banyak banget ilmu yang gue serap dari beliau, sangking banyaknya gue lupa semua hehehe, tapi gue catet sih materinya. Nih, gue kasih tahu ke kalian sedikit dari materinya..

Kriteria berita yang baik dan benar itu sepuluh dasar, diantaranya:

Verification, Objectivity, Originality, Completeness, Transparency, Fairness, Restraint, Humanity, Accountability, Responsible of the story, Responsible for Public of the story, Eye Witness People Who See, Empowerment dan Give someone power for speak.

Ilmu dari Mr. Bruno itu sangat bermanfaat buat gue dan semua peserta yang hadir di acara pada hari itu. Lumayan, gue jadi orang bule tiga jam ngomong pake bahasa inggris mulu. Thankyou, Mr. Bruno. See you when i see you!


Minggu keduanya (21/01/2017),  pengisi materinya berbeda lagi. Beliau adalah Mbak Yeyen. Seorang editor di Redaksi Republika. Pembawaannya enak dan santai, padahal kita semua tahu bahwa Republika merupakan media berita yang serius. Mbak Yeyen ngasih cuplikan video singkat tentang Deep Throat  (Water Gate) American Post yang dikenal sebagai suatu kejadian dua orang Jurnalis Investigasi asal USA berhasil melengserkan Presiden Richard yang saat itu memimpin. Dari video itu menjelaskan bahwa sangatlah berisiko tinggi untuk menjadi seorang Jurnalis Investigasi, karena setelah berhasil melengserkannya, dua orang jurnalis itu pun diteror habis-habisan the rest of his life.

Selain itu juga beliau menjelaskan bahwa dalam pembuatan sebuah investigasi itu tidak selalu harus mengaku sebagai seorang Jurnalis, selain untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan, agar informasi yang didapatkan pun diharapkan sesuai dengan experiences sesungguhnya. Mbak Yeyen juga bilang, “Having touch personal ke narasumber yang kita wawancarai akan memberikan nilai lebih untuk mendapatkan berita yang kuat dan menarik”.

Pesan yang selalu beliau tekankan pada setiap materinya adalah “Paksa editor untuk suka sama materi berita yang kita bahas, jangan mau nurut-nurut aja. Harus punya komunikasi dua arah yang baik”. Dari session ini gue jadi tertarik jadi Jurnalis Investigasi. Seru! :D Terima kasih, Mbak Yeyen, semoga kita bisa bertemu kembali ya..


Di pertemuan minggu ketiga (28/01/2017), pemberi materinya adalah Pak Subroto (Managing Editor Republika). Berbeda dengan pemateri sebelumnya, cara delivery materinya Pak Subroto seperti lagi kuliah sama dosen yang membosankan. Over all, banyak juga ilmu yang gue serap dari beliau kok. Beliau bilang bahwa pengulangan kata atau kalimat dalam menulis berita itu tidak boleh dan jangan pernah mengedit tulisan sebelum tulisan itu benar-benar selesai.

Pak Subroto juga memberikan tips yang sangat bermanfaat, beliau berpesan bahwa untuk tidak typo dalam menulis. Karena kalau saja kita typo dalam menyampaikan informasi, bagaimana orang lain mau percaya dengan informasi yang kita sampaikan. Baru kali ini nih dapet materi yang sebenernya ngebosenin tapi bermanfaat buat hidup gue. Terima kasih, Pak Subroto. Sukses selalu.


Yang menarik dari pertemuan keempat ini, pengisi materinya adalah Mr. Prabu Revolusi Anchor CNN Indonesia dan hari itu merupakan pertemuan ke dua dengan beliau, iya sebelumnya gue pernah menghadiri seminar CNN MeetUp #05 di Kampus IPB Bogor. Dari sebelum bertemu langsung dengan beliau, gue selalu interest sama apapun yang beliau omongin. Dengan gaya yang pria metroseksual dan achor bikin beliau menjadi panutan q hahaha. Tapi sayangnya beliau udah punya isteri, Zee Shahab. Hu sedih :( balik ke pembahasan.

Karena beliau merupakan Jurnalis TV, jadi materinya seputar berita pertelevisian. Mr. Prabu bilang bahwa “Great news is when you tell it as it is and you can get to the heart of the story”. Beliau menceritakan bagaimana ia menjadi seorang Jurnalis. Terlebih kalau ia diharuskan untuk live news. Tips yang Mr. Prabu kasih adalah kalau kita mau lancar membawakan live news, kita harus berlatih ngomongin satu objek apapun yang ada di depan kita dalam waktu satu menit, jika kita bisa terbiasa dengan hal itu, maka kita bisa improve berita dalam waktu tiga menit. Live news yang baik adalah Walk and Talk agar feel dan effortnya pun terasa. Tuturnya. Berkat pesannya, gue pun mempraktekan hal itu setiap hari. Keren banget emang Mr. Prabu Revolusi! Gue berharap suatu saat nanti ketika gue udah lulus kuliah, gue mau apply di CNN dan mentornya tuh beliau. Hehehe Terima kasih, Mr. Prabu, You're so damn cool!


Ini menjadi pertemuan terakhir dari Course English for Journalism (11/02/1017), pengisi materi pada minggu terakhir ini adalah Mr. Sultan yang merupakan seorang guru bahasa inggris diberbagai universitas terkemuka di luar negeri. Gue inget-inget lupa alias lupa materi apa yang beliau kasih tapi kurang lebih materinya sama seperti Mr. Bruno, pembedanya hanya beliau ngasih penjelasan tentang how to be Journalism in the Digital Age. Intinya beliau bilang bahwa komunikasi di era ini harus beriringan dengan teknologi yang sudah berkembang sangat pesat seperti sekarang. Thankyou for your time, Mr. Sultan. Nice to know you!



Terima kasih untuk Coursera & University of Pennsylvania yang sudah berkerja sama dengan @atmerica dalam menyelenggarakan kegiatan yang sangat bermanfaat ini. Sebulan setelah kegiatan ini berakhir, sertifikat pun baru diberikan dan hal itu menjadi sebuah proud of myself gitu. Semua orang bilang kalau gue nggak mungkin jadi Journalist of  VoA tapi entah kenapa gue selalu menyakinkan diri gue bahwa ya gue pasti bisa dengan semua pundi-pundi yang gue kumpulkan sejak dulu, sekarang dan mendatang. Sekarang juga gue kerja di media portal, bukan sebagai reporternya sih, sebagai Social Media Specialist, tapi lingkungan gue tuh rata-rata lulusan Jurnalistik semua. Gue mau belajar lebih banyak dari mereka, biar gue benar-benar bisa mencapai impian yang katanya mustahil itu. Hanya segelintir orang yang yakin pun tidak terhadap gue bisa menjadi seorang jurnalis internasional tapi kalian semua harus tahu bahwa gue selalu percaya sama diri gue bisa menggapai semua apa yang mau gue gapai. Itu cukup.

Terima kasih sudah mau membaca cerita ini sampai selesai. Semoga kita bisa menggapai apa yang mau kita gapai dan menjadi yang terbaik untuk diri sendiri ya. See ya!


Regards,
Deyacdp

0 komentar:

Post a Comment